Jakarta — Program Studi Sarjana Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti melaksanakan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Angkatan 2026 sejumlah 45 mahasiswa pada Rabu, 30 September 2026, melalui kunjungan ke Kota Tua Jakarta dan Aloha PIK 2. Kegiatan dipimpin oleh Ketua Program Studi Sarjana Pariwisata, Dr. Arief Faizal Rachman, SST.Par., M.T. dan didampingi oleh Yemima dan Septian sebagai mahasiswa mentor Angkatan 2025.
Kunjungan ini menjadi kesempatan awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal pariwisata melalui pengalaman langsung di destinasi. Dua kawasan dengan karakter berbeda memberikan konteks pembelajaran tentang hubungan antara daya tarik, ruang wisata, fasilitas, aktivitas, dan pengalaman pengunjung.
Berdasarkan susunan acara, peserta berkumpul di kampus mulai pukul 07.00 WIB, kemudian melakukan perjalanan menuju Kota Tua Jakarta. Rangkaian kegiatan dilanjutkan ke Aloha PIK 2 sebelum kembali ke kampus.

Kota Tua Jakarta sebagai ruang belajar sejarah dan destinasi, Kebersamaan peserta PKKMB Prodi S1 Pariwisata di depan Museum Sejarah Jakarta kawasan Kota Tua Jakarta.
Kota Tua Jakarta menjadi tujuan pertama dalam rangkaian kegiatan. Bangunan bersejarah, identitas kawasan, ruang publik, dan aktivitas wisata menghadirkan bahan pengamatan bagi mahasiswa untuk memahami peran warisan sejarah dan budaya dalam membentuk sebuah destinasi.
Melalui kunjungan ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk melihat keterkaitan antara karakter tempat dan pengalaman wisata. Kawasan bersejarah dapat dipelajari sebagai ruang yang mempertemukan pelestarian, kebutuhan pengunjung, aktivitas ekonomi, dan kehidupan perkotaan.
Pengalaman berada langsung di kawasan membantu mahasiswa mulai membaca destinasi secara lebih utuh. Perhatian dapat diarahkan pada kemudahan akses, kenyamanan berjalan kaki, informasi bagi pengunjung, serta pemanfaatan ruang publik. Aspek tersebut menjadi bagian dari cara pandang yang perlu dikembangkan oleh calon perencana destinasi.
Kota Tua Jakarta dengan demikian menjadi ruang belajar terbuka atau living classroom yang menghubungkan pengenalan akademik dengan konteks nyata pariwisata perkotaan.

Mahasiswa S1 Pariwisata 2026 mengamati koleksi Museum Wayang dalam rangkaian kunjungan PKKMB di Kota Tua Jakarta.
Kunjungan di kawasan Kota Tua Jakarta mencakup Museum Wayang, tempat mahasiswa mengenal kekayaan seni pewayangan melalui koleksi yang dipamerkan. Museum ini menyimpan beragam wayang Indonesia serta wayang dan boneka dari mancanegara. Keberagaman tersebut memberikan konteks bagi mahasiswa untuk memahami hubungan antara bentuk seni, tradisi bercerita, dan identitas budaya masyarakat.
Dalam kegiatan yang dipimpin Dr. Arief Faizal Rachman, SST.Par., M.T., koleksi museum menjadi bahan pengenalan terhadap potensi budaya sebagai sumber pembelajaran pariwisata. Wayang dapat dipahami melalui keterampilan pembuatannya, karakter tokoh, alur cerita, serta nilai kehidupan yang disampaikan melalui pertunjukan. Pemahaman ini membuka ruang bagi mahasiswa untuk melihat kedalaman makna di balik sebuah daya tarik budaya.
Bagi calon perencana destinasi, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal peran interpretasi, yaitu penyampaian cerita dan makna koleksi kepada pengunjung. Tata pamer dan informasi yang mudah dipahami dapat membantu wisatawan memperoleh pengalaman yang berkesan sekaligus menumbuhkan penghargaan terhadap warisan budaya. Dari museum, mahasiswa mulai mengenali pentingnya menghubungkan pelestarian dengan pengalaman wisata yang edukatif.

Mahasiswa S1 Pariwisata mengikuti penjelasan di ruang koleksi Museum Sejarah Jakarta.
Di Museum Sejarah Jakarta, mahasiswa mengikuti penjelasan mengenai sejarah bangunan dan koleksi yang berkaitan dengan kehidupan Batavia. Gedung yang dahulu digunakan sebagai balai kota ini juga memiliki fungsi peradilan. Konteks tersebut membantu mahasiswa memahami hubungan antara ruang bersejarah, pemerintahan, dan pesan yang disampaikan melalui karya seni di dalamnya.
Salah satu pembahasan berfokus pada King Solomon atau Raja Salomo, yang dikenal sebagai Nabi Sulaiman dalam tradisi Islam. Kisahnya hadir pada bagian tengah “Lukisan Tiga Keputusan Pengadilan” karya J.J. de Nijs. Dalam cerita tersebut, dua perempuan mengaku sebagai ibu seorang bayi. Salomo menguji pengakuan mereka dengan perintah membagi bayi itu; perempuan yang memilih menyerahkan bayi agar tetap hidup kemudian dikenali sebagai ibu yang sesungguhnya. Kisah ini menyampaikan pesan tentang kebijaksanaan, ketelitian mencari kebenaran, dan penghargaan terhadap kehidupan.
Tema Pengadilan Salomo dikenal dalam tradisi seni peradilan Eropa, terutama di wilayah Belanda. Contohnya terdapat pada relief ruang tribunal bekas Balai Kota Amsterdam, yang kini menjadi Royal Palace Amsterdam. Penggambaran tersebut berfungsi sebagai pengingat agar hakim bertindak bijaksana dan adil. Melalui penjelasan ini, mahasiswa dapat melihat bagaimana cerita dalam koleksi museum menghubungkan sejarah lokal dengan tradisi budaya yang lebih luas.

Penjelasan kepada mahasiswa peserta PKKMB Prodi S1 Pariwisata di depan lukisan S. Sudjojono tentang perjuangan Sultan Agung di Museum Sejarah Jakarta.
Perhatian mahasiswa juga diarahkan pada lukisan monumental S. Sudjojono tentang perjuangan Sultan Agung melawan VOC di Batavia. Karya yang dikenal sebagai “Sejarah Perjuangan Sultan Agung” atau “Pertempuran antara Sultan Agung dan J.P. Coen” ini terdiri atas tiga panel dan berukuran sekitar 3 × 10 meter. Lukisan tersebut menghadirkan rangkaian adegan yang berkaitan dengan persiapan, pertempuran, dan pertemuan tokoh dalam konteks penyerangan Mataram ke Batavia pada 1628–1629.
Penjelasan mengenai lukisan ini memperkenalkan mahasiswa pada hubungan antara seni rupa, riset sejarah, dan penyampaian narasi kepada pengunjung. Sudjojono melakukan penelitian dan menyiapkan sejumlah sketsa untuk membangun penggambaran tokoh, suasana, serta detail visual karyanya. Dengan demikian, lukisan dapat dibaca sebagai interpretasi artistik atas peristiwa sejarah yang disusun melalui proses pengkajian.
Bagi mahasiswa Sarjana Pariwisata, pengalaman mengamati karya tersebut memberi contoh tentang kekuatan cerita dalam memperkaya kunjungan museum. Penjelasan yang akurat dan menarik dapat membantu pengunjung memahami konteks sebuah koleksi serta menghubungkannya dengan sejarah tempat. Pembelajaran di Museum Wayang dan Museum Sejarah Jakarta menjadi bekal awal untuk mengenali bagaimana warisan budaya dapat dihadirkan sebagai pengalaman wisata yang bermakna dan bertanggung jawab.

Peserta PKKMB Prodi S1 Pariwisata Angkatan 2026 di Aloha PIK 2 sebagai bagian dari rangkaian pengenalan destinasi.
Setelah kunjungan ke Kota Tua Jakarta, perjalanan dilanjutkan menuju Aloha PIK 2. Agenda observasi di kawasan ini memberikan konteks berbeda melalui suasana rekreasi pesisir, lanskap, ruang terbuka, kuliner, serta fasilitas bagi pengunjung.
Aloha PIK 2 menjadi bahan pembelajaran untuk memahami bagaimana penataan ruang dan penyediaan aktivitas dapat membentuk pengalaman wisata. Mahasiswa dapat menghubungkan suasana kawasan, titik berkumpul, jalur pergerakan, dan fasilitas dengan kenyamanan pengunjung selama berada di destinasi.
Dua lokasi dalam satu perjalanan memperluas sudut pandang mahasiswa terhadap pengembangan pariwisata. Kota Tua Jakarta memberikan konteks mengenai warisan sejarah dan identitas kawasan, sedangkan Aloha PIK 2 memberikan konteks mengenai pengembangan ruang rekreasi kontemporer.
Perbedaan tersebut menjadi titik awal untuk memahami bahwa setiap destinasi memerlukan pendekatan perencanaan yang sesuai dengan sumber daya, karakter ruang, serta kebutuhan para pemangku kepentingannya.

PKKMB berbasis kunjungan destinasi ini menjadi bagian dari pengenalan identitas Program Studi Sarjana Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti sebagai “The Destination Planner”. Mahasiswa mulai diperkenalkan pada cara pandang bahwa destinasi merupakan suatu sistem yang melibatkan ruang, atraksi, masyarakat, wisatawan, usaha pariwisata, infrastruktur, dan lingkungan.
Cara pandang tersebut menjadi landasan untuk mengembangkan kemampuan mengidentifikasi potensi, menganalisis permasalahan, serta merumuskan rencana dan rekomendasi pengembangan destinasi selama proses perkuliahan.
Selain memberikan pengalaman awal belajar di lapangan, perjalanan bersama menjadi ruang interaksi bagi mahasiswa Angkatan 2026 untuk saling mengenal dan membangun kebersamaan. Kampus dan destinasi menjadi bagian dari pengalaman pengenalan kehidupan akademik yang saling melengkapi.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak memulai perjalanan akademiknya dengan semangat belajar dari destinasi, memahami karakter tempat, dan mengembangkan kemampuan untuk merencanakan masa depan pariwisata. Kota Tua Jakarta dan Aloha PIK 2 menjadi dua ruang belajar awal bagi generasi baru “The Destination Planner” Institut Pariwisata Trisakti.
