JAKARTA – Institut Pariwisata Trisakti terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan lingkungan perguruan tinggi yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari kekerasan. Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui keikutsertaan Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Institut Pariwisata Trisakti dalam Seminar Nasional, Workshop, dan Temu Nasional Satgas PPKPT Se-Indonesia yang diselenggarakan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada 8–9 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Brigjen Latief Hendraningrat, Gedung Dewi Sartika, Kampus A UNJ, mengusung tema “Mewujudkan Kampus yang Aman, Nyaman, Inklusif, Bebas dari Kekerasan, dan Berdampak.” Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi para Satgas PPKPT dari berbagai perguruan tinggi untuk memperkuat kapasitas, bertukar pengalaman, membahas tantangan, serta membangun jejaring kolaborasi dalam pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi.

Institut Pariwisata Trisakti menjadi salah satu perguruan tinggi swasta di lingkungan LLDIKTI Wilayah III yang ditugaskan untuk mengikuti kegiatan tersebut secara luring. Kehadiran Ketua Satgas PPKPT IP Trisakti merupakan bentuk komitmen institusi untuk terus mengikuti perkembangan kebijakan dan praktik baik dalam penguatan tata kelola pencegahan dan penanganan kekerasan di perguruan tinggi.
Penguatan Tata Kelola PPKPT dan Perlindungan Korban
Rangkaian kegiatan hari pertama menghadirkan sejumlah narasumber dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, perguruan tinggi, serta praktisi psikologi. Materi yang dibahas mencakup kebijakan pencegahan dan penanganan kekerasan di perguruan tinggi, tata kelola penanganan kasus, serta akar permasalahan kekerasan dan solusi penanganannya. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Temu Nasional Satgas PPKPT sebagai forum berbagi pengalaman dan penguatan jejaring antarsatgas.
Salah satu pesan penting disampaikan oleh Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Ineke Indraswati, yang menegaskan bahwa kekerasan di lingkungan perguruan tinggi merupakan persoalan serius yang tidak boleh dibiarkan. Menurut Ineke, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan peradaban bangsa sehingga tidak boleh membiarkan kekerasan berlangsung tanpa penanganan yang serius. Dalam penanganan kasus, kepentingan terbaik bagi korban harus menjadi prioritas, termasuk aspek keamanan, pemulihan, dan kerahasiaan identitas korban.

Ineke juga memberikan penekanan yang sangat penting bagi tata kelola perguruan tinggi: kampus tidak boleh menutup-nutupi kasus demi menjaga nama baik institusi. Sebaliknya, nama baik perguruan tinggi justru dijaga melalui penanganan yang transparan dan akuntabel.
Pesan tersebut menjadi salah satu refleksi penting bagi Satgas PPKPT Institut Pariwisata Trisakti. Pencegahan dan penanganan kekerasan tidak semestinya dipandang sebagai upaya menjaga citra institusi dengan cara menyembunyikan persoalan, tetapi sebagai bagian dari upaya membangun kepercayaan, integritas, dan budaya akademik yang sehat.
Membangun Budaya Kampus, Bukan Sekadar Menangani Kasus
Rektor UNJ, Prof. Komarudin, dalam sambutannya menyampaikan bahwa persoalan kekerasan di perguruan tinggi saat ini tidak lagi terbatas pada kekerasan seksual, tetapi juga mencakup bullying dan berbagai bentuk kekerasan lainnya.
UNJ sendiri telah melakukan langkah-langkah pencegahan sejak sebelum regulasi nasional mengenai PPKPT diterbitkan. Menurut Prof. Komarudin, langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen institusi untuk menciptakan lingkungan kampus yang aman dan bebas dari kekerasan. Ia juga menyambut baik gagasan pembentukan Forum Komunikasi Satgas PPKPT se-Indonesia sebagai ruang untuk memperkuat koordinasi, berbagi pengalaman, dan mencari solusi bersama.

Bagi Institut Pariwisata Trisakti, perspektif tersebut memperkuat pemahaman bahwa PPKPT bukan hanya bekerja ketika terjadi laporan atau kasus. PPKPT perlu hadir sebagai bagian dari sistem pencegahan dan budaya institusi, melalui edukasi, sosialisasi, peningkatan kesadaran warga kampus, penyediaan kanal pelaporan yang mudah diakses, perlindungan korban dan pelapor, serta penguatan kolaborasi dengan berbagai unsur di lingkungan perguruan tinggi.
Keikutsertaan PPKPT Institut Pariwisata Trisakti dalam kegiatan nasional tersebut memberikan banyak pembelajaran yang dapat menjadi bahan evaluasi dan penguatan program PPKPT di lingkungan Institut Pariwisata Trisakti. “Bagi kami, kegiatan ini bukan hanya kesempatan untuk mendapatkan informasi mengenai kebijakan PPKPT, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar dari pengalaman perguruan tinggi lain. Kami melihat bahwa pencegahan kekerasan harus dibangun sebagai budaya bersama, bukan hanya menjadi tugas Satgas ketika terjadi kasus.” Lingkungan kampus yang aman tidak dapat dibangun hanya melalui regulasi dan pembentukan Satgas. Dibutuhkan keterlibatan seluruh warga kampus untuk menciptakan lingkungan yang saling menghargai, berani menyampaikan atau melaporkan ketika terjadi kekerasan, serta memastikan bahwa korban mendapatkan perlindungan dan pendampingan yang tepat.
PPKPT sebagai Bagian dari Karakter Kampus Pariwisata
Sebagai perguruan tinggi yang memiliki kekhasan dalam bidang pariwisata dan hospitality, Institut Pariwisata Trisakti memiliki nilai yang sangat dekat dengan upaya membangun lingkungan yang aman, nyaman, dan menghargai manusia.
Nilai-nilai seperti hospitality, respect, empathy, service excellence, dan human dignity tidak hanya penting diterapkan dalam konteks pelayanan pariwisata, tetapi juga perlu menjadi bagian dari kehidupan akademik di lingkungan kampus.

“IP Trisakti memiliki karakter sebagai perguruan tinggi yang bergerak di bidang pariwisata dan hospitality. Nilai-nilai menghargai manusia, memberikan rasa aman, melayani dengan empati, serta membangun lingkungan yang nyaman sangat dekat dengan nilai-nilai yang perlu kita hadirkan dalam kehidupan kampus. Karena itu, PPKPT harus menjadi bagian dari budaya institusi,” ujar Santi.
Pandangan tersebut menempatkan PPKPT bukan sekadar sebagai unit yang menjalankan fungsi administratif, tetapi sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang berorientasi pada manusia.
Dengan demikian, keberhasilan PPKPT tidak hanya diukur dari kemampuan menangani kasus, tetapi juga dari sejauh mana budaya pencegahan tumbuh di kalangan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, maupun seluruh warga kampus.
Memperkuat Jejaring dan Kolaborasi Antarsatgas
Kepala Satgas PPK UNJ, Ikhlasiah Dalimoenthe, menjelaskan bahwa Temu Nasional Satgas PPKPT diselenggarakan karena adanya kebutuhan yang kuat untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi antarsatgas PPKPT di seluruh Indonesia.
Menurut Ikhlasiah, tingginya antusiasme perguruan tinggi untuk mengikuti kegiatan tersebut menunjukkan bahwa forum nasional seperti ini memang dibutuhkan. Ia berharap dari pertemuan tersebut dapat lahir diskusi yang menghasilkan solusi konkret, deklarasi bersama, serta kemungkinan terbentuknya Forum Komunikasi Satgas PPKPT se-Indonesia.

Gagasan tersebut menjadi salah satu hasil penting dari pertemuan nasional ini. Jejaring antarsatgas diharapkan dapat menjadi ruang untuk saling berbagi praktik baik, pengalaman penanganan, tantangan kelembagaan, serta inovasi dalam membangun sistem pencegahan kekerasan yang lebih efektif.
Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Satgas PPK UNJ dan Satgas PPKPT dari berbagai perguruan tinggi, yang kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Komnas Perempuan dan Komnas HAM. Kegiatan juga menghasilkan Deklarasi Bersama untuk mewujudkan kampus yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan.
Bagi Institut Pariwisata Trisakti, jejaring tersebut menjadi peluang untuk terus memperkuat kapasitas Satgas sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga terkait dalam pengembangan sistem pencegahan dan penanganan kekerasan.
Dari Pembelajaran Menuju Penguatan PPKPT IP Trisakti
Keikutsertaan dalam Temu Nasional Satgas PPKPT Se-Indonesia diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat diterjemahkan menjadi pembelajaran dan penguatan nyata di lingkungan Institut Pariwisata Trisakti.
Beberapa aspek yang menjadi perhatian antara lain penguatan edukasi dan sosialisasi PPKPT, peningkatan kesadaran seluruh warga kampus, pengembangan mekanisme pelaporan yang mudah diakses dan aman, penguatan perlindungan terhadap korban dan pelapor, serta peningkatan kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Yang kami bawa pulang dari kegiatan ini adalah semangat bahwa membangun kampus yang aman bukan pekerjaan satu orang atau satu unit. Ini merupakan tanggung jawab bersama. Satgas dapat menjadi penggerak, tetapi budaya kampus yang aman hanya akan terbentuk apabila seluruh warga IP Trisakti ikut mengambil peran,” tutur Santi.

Melalui keikutsertaan aktif dalam forum nasional tersebut, Institut Pariwisata Trisakti menegaskan komitmennya untuk terus membangun lingkungan pendidikan tinggi yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari kekerasan.
Bagi IP Trisakti, kampus yang aman bukan hanya tentang tidak adanya kekerasan, tetapi tentang hadirnya rasa aman, saling menghormati, kepedulian, keberanian untuk bersuara, serta sistem yang mampu memberikan perlindungan dan keadilan bagi seluruh warga kampus. Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya Institut Pariwisata Trisakti untuk terus menghadirkan pendidikan tinggi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan keterampilan profesional, tetapi juga berkarakter, humanis, dan berdampak bagi masyarakat.
