Institut Pariwisata Trisakti melalui Unit Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) menyelenggarakan Pelatihan Trauma Informed Approach pada Jumat, 27 Februari 2026, bertempat di Institut Pariwisata Trisakti, Bintaro, Jakarta Selatan. Kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat kapasitas tim Satgas agar mampu menangani laporan kekerasan secara profesional, empatik, dan berorientasi pada pemulihan korban.
Pelatihan ini dilaksanakan sebagai respons atas mandat regulasi nasional yang menegaskan pentingnya perlindungan korban serta penguatan sistem penanganan kekerasan di perguruan tinggi Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024. Selain itu, pendekatan ini juga selaras dengan semangat perlindungan korban dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual yang menekankan hak atas penanganan, pelindungan, dan pemulihan.

Menghadirkan narasumber Ika Putri Dewi, S.Psi., Psikolog dari Yayasan PULIH, pelatihan mengangkat tema “Memahami Dinamika Korban dan Keterampilan Menanggapi (Helping Skill) Berperspektif Korban Kekerasan Seksual”. Materi difokuskan pada pemahaman pengalaman traumatik, reaksi psikologis korban, serta keterampilan respons awal (first response skill) yang aman dan tidak menghakimi.
Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa trauma bukan sekadar peristiwa menyakitkan, melainkan pengalaman yang melampaui kemampuan individu untuk menanggungnya. Reaksi seperti shock, ketakutan, mati rasa, gangguan tidur, hingga respons fight, flight, freeze, dan fawn merupakan respons biologis yang wajar terhadap situasi mengancam. Pemahaman ini menjadi landasan penting agar anggota Satgas tidak keliru menilai respons korban sebagai sikap yang berlebihan atau tidak konsisten.
Pelatihan juga menekankan bahaya victim blaming yang kerap muncul secara tidak disadari akibat bias pribadi, stereotip gender, maupun keyakinan keliru seperti just world belief. Peserta diajak merefleksikan kecenderungan tersebut serta mempraktikkan komunikasi empatik melalui teknik mendengar aktif, parafrase, validasi emosi, serta penggunaan pertanyaan terbuka yang tidak memojokkan.
Selain paparan konseptual dan diskusi interaktif, kegiatan dilengkapi dengan simulasi role play berbasis studi kasus. Dalam sesi ini, peserta berlatih menerima laporan, melakukan penggalian informasi, serta memberikan dukungan awal termasuk teknik relaksasi sederhana seperti pernapasan 4-7-8 dan grounding untuk membantu menstabilkan kondisi emosional korban.

Sebanyak 11 anggota Satgas PPKPT yang terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa mengikuti pelatihan ini secara aktif. Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun sistem penerimaan laporan yang sensitif terhadap trauma, menjunjung tinggi kerahasiaan, serta benar-benar berpusat pada penyintas.
Pelatihan ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan Institut Pariwisata Trisakti dalam menciptakan lingkungan akademik yang aman, bermartabat, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Dengan penguatan kapasitas yang berbasis perspektif korban, institusi tidak hanya memenuhi aspek administratif regulasi, tetapi juga menghadirkan proses penanganan yang manusiawi dan bermakna.



