LAMPUNG SELATAN – Institut Pariwisata (IP) Trisakti melalui Program Magister Pariwisata memperkuat kontribusinya dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis masyarakat di Kabupaten Lampung Selatan. Melalui kegiatan Field Research dan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Batch 36, mahasiswa bersama dosen pendamping melakukan kajian potensi wisata, pemberdayaan masyarakat, serta penyusunan rekomendasi pengembangan destinasi di kawasan Gunung Rajabasa.
Kegiatan yang berlangsung pada 30 Oktober hingga 1 November 2026 ini mengusung tema “Harmoni Gunung Rajabasa: Strategi Penguatan Ekosistem Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Masyarakat di Kawasan Ridge to Reef Gunung Rajabasa”, dengan lokus penelitian di Desa Kecapi, Desa Way Kalam, dan Desa Kelawi.

Rangkaian kegiatan diawali dengan audiensi bersama Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan pada Jumat (30/10/2026), bertempat di Aula Rajabasa, Kantor Bupati Lampung Selatan. Rombongan Magister Pariwisata IP Trisakti diterima oleh Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan (Ekobang) Sekretariat Daerah Kabupaten Lampung Selatan, Tri Umaryani.
Pertemuan tersebut menjadi ruang diskusi untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi pariwisata lokal. Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan menyampaikan bahwa daerah ini memiliki kekayaan wisata alam, bahari, dan budaya yang perlu didukung oleh peningkatan kualitas sumber daya manusia, aksesibilitas, fasilitas pendukung, serta keterlibatan aktif masyarakat.
Kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan hexahelix, yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, media, dan pemangku kepentingan lainnya, dinilai penting untuk memastikan pengembangan pariwisata memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Wakil Rektor III Bidang Pemasaran dan Kerja Sama IP Trisakti, Novita Widyastuti, menyampaikan bahwa kegiatan penelitian lapangan ini merupakan bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan pariwisata daerah melalui kajian akademik dan pemberdayaan masyarakat.
“Melalui kegiatan field research ini, kami berharap dapat mengidentifikasi berbagai potensi dan kesenjangan yang perlu ditindaklanjuti. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi akademik bagi pengembangan pariwisata sekaligus mendorong peningkatan perekonomian masyarakat, khususnya melalui penguatan UMKM,” ungkap Novita.
Usai audiensi, mahasiswa yang terbagi dalam enam kelompok melaksanakan penelitian lapangan di Desa Kecapi, Way Kalam, dan Kelawi. Kajian difokuskan pada penguatan ekosistem pariwisata berkelanjutan, meliputi pengelolaan ekowisata dan konservasi, gastronomi dan agrowisata, pemberdayaan UMKM dan ekonomi kreatif, pemasaran digital dan branding destinasi, tata kelola kelembagaan dan sumber daya manusia pariwisata, serta infrastruktur, keselamatan, dan smart tourism.

Salah satu potensi yang menjadi perhatian adalah komoditas perkebunan lokal Desa Way Kalam yang dapat dikembangkan melalui pendekatan gastronomi berkelanjutan dan agrowisata. Mahasiswa juga menyusun rekomendasi penguatan usaha masyarakat, antara lain peningkatan kualitas kemasan produk, perluasan pemasaran oleh-oleh, penguatan rantai pasok hasil kebun, serta pelibatan generasi muda dalam pengembangan UMKM.
Hasil penelitian tersebut diharapkan mampu mengidentifikasi peluang pengembangan potensi lokal menjadi produk wisata yang memiliki nilai tambah, sekaligus memperkuat keterkaitan antara sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat desa.
Rangkaian kegiatan ditutup pada Minggu (1/11/2026) di Aula Desa Way Kalam, Kabupaten Lampung Selatan. Acara penutupan dihadiri Kepala Desa Way Kalam Abdul Rasyid, Kepala Desa Kecapi dan Kepala Desa Kelawi, perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pelaku UMKM, Karang Taruna, masyarakat setempat, mahasiswa, serta dosen pendamping Magister Pariwisata IP Trisakti.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Way Kalam, Abdul Rasyid, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan penelitian di tiga desa tersebut. Ia berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai kunjungan akademik, tetapi dapat dilanjutkan melalui pendampingan dan kolaborasi berkesinambungan untuk mendukung pengembangan desa wisata serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pada sesi penutupan, Novita Widyastuti yang juga bertindak sebagai dosen pendamping menegaskan bahwa pengembangan desa wisata membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dukungan kebijakan dan infrastruktur pemerintah, hingga kemitraan strategis dengan industri pariwisata.
Berdasarkan pengalaman IP Trisakti dalam membina sejumlah desa wisata di Jawa Barat melalui penelitian lapangan dan PKM, ia menekankan pentingnya mengembangkan potensi khas desa, termasuk alam, budaya, kuliner tradisional, dan produk UMKM, sebagai daya tarik wisata yang berkelanjutan.
Novita juga mendorong penguatan kelembagaan lokal seperti Pokdarwis dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) agar mampu menjadi penggerak perekonomian masyarakat, termasuk dalam pengembangan UMKM, pengelolaan fasilitas wisata, dan penyediaan homestay.
“Pengembangan desa wisata perlu menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama, bukan hanya sebagai penonton. Potensi lokal harus mampu menggerakkan perekonomian dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia turut menyoroti pentingnya mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama di desa wisata, setidaknya dua hari satu malam. Dengan meningkatnya lama tinggal wisatawan, peluang belanja produk lokal, penggunaan jasa homestay, serta keterlibatan UMKM dalam rantai ekonomi pariwisata diharapkan semakin terbuka.
Sebagai tindak lanjut, hasil rekomendasi penelitian mahasiswa direncanakan akan disusun dalam bentuk buku kajian yang dapat disampaikan kepada pemerintah daerah dan pemerintah desa. Dokumen tersebut diharapkan menjadi referensi dalam menyusun rencana pengembangan desa, baik jangka pendek maupun menengah.
Melalui kegiatan ini, IP Trisakti menegaskan komitmennya dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, pelaku usaha, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat pengembangan Desa Kecapi, Way Kalam, dan Kelawi sebagai kawasan wisata yang berdaya saing, berkelanjutan, serta memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat Lampung Selatan.
Institut Pariwisata Trisakti – Berkontribusi melalui pendidikan, penelitian, dan kolaborasi untuk pariwisata Indonesia yang berkelanjutan.
