IP Trisakti Perkuat Kolaborasi Pariwisata Berkelanjutan melalui International Community Service di Malaysia

KUALA TERENGGANU, MALAYSIA – Institut Pariwisata Trisakti (IP Trisakti) berpartisipasi dalam kegiatan International Community Service yang diselenggarakan di Terengganu, Malaysia, pada 26–29 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi akademisi dan mahasiswa lintas negara dalam mendukung pemberdayaan masyarakat serta pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis komunitas.

Delegasi IP Trisakti terdiri atas dua dosen, Fifi Nofiyanti dan R.M.W. Agie Pradhipta, serta satu mahasiswa Program Studi S1 Pariwisata, Puguh Jalu Amilon. Mereka bergabung bersama dosen dan mahasiswa dari lima negara, yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Pakistan.

Khusus delegasi Indonesia, peserta berasal dari berbagai daerah, antara lain Parepare, Makassar, Lombok, Jawa Timur, Malang, Surabaya, Aceh, hingga Sumatera Barat. Keberagaman latar belakang tersebut memperkaya pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan praktik pengembangan pariwisata berbasis potensi lokal.

Rangkaian kegiatan dikemas melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Internasional, ASEAN Youth Forum, serta promosi pariwisata Terengganu. Berbagai aktivitas dilaksanakan melalui penyuluhan, diskusi, dan sharing session yang berlokasi di Kantor Kepala Homestay Teluk Ketapang dan Terengganu State Museum.

Dalam kegiatan tersebut, delegasi IP Trisakti berkontribusi melalui berbagi pengetahuan mengenai penerapan budaya folklore dalam pengelolaan homestay, konsep wisata regeneratif (regenerative tourism), serta pemanfaatan teknologi dalam pengembangan digital tourism.

Fifi Nofiyanti menyampaikan bahwa keterlibatan akademisi dalam kegiatan ini merupakan bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi terhadap pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan pariwisata yang berakar pada budaya dan kearifan lokal.

“Kami sebagai akademisi menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat melalui International Community Service. Dalam kegiatan ini, kami berbagi pengetahuan mengenai penerapan budaya folklore pada homestay, wisata regeneratif, dan digital tourism. Dengan mengenal folklore, masyarakat maupun wisatawan dapat lebih memahami karakter dan nilai budaya suatu destinasi, sehingga tumbuh kesadaran untuk berwisata secara bertanggung jawab serta menjaga keharmonisan antara manusia dan alam,” ujar Fifi.

Sementara itu, R.M.W. Agie Pradhipta menekankan pentingnya keberlanjutan hubungan antarlembaga dan komunitas setelah kegiatan berlangsung.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat membangun dan memperkuat kerja sama berkelanjutan dengan berbagai pihak, baik akademisi, komunitas, maupun pemangku kepentingan pariwisata,” ungkap Agie.

Pengalaman berharga juga dirasakan oleh Puguh Jalu Amilon sebagai perwakilan mahasiswa IP Trisakti. Menurutnya, kegiatan ini memberikan kesempatan untuk memperluas wawasan sekaligus membangun jejaring internasional.

“Sebagai mahasiswa, saya memperoleh banyak pengetahuan dan pengalaman baru. Saya juga berkesempatan bertukar informasi serta berbagi perspektif dengan mahasiswa dan pelajar dari lima negara. Pengalaman ini sangat berharga untuk menambah wawasan dan memahami keberagaman budaya serta perkembangan pariwisata di tingkat internasional,” tutur Amilon.

Salah satu capaian penting kegiatan ini adalah terbangunnya jejaring kolaborasi lintas negara yang mempertemukan akademisi, mahasiswa, dan pelaku usaha pariwisata lokal. Selain itu, para pemilik homestay memperoleh peluang untuk menjalin kerja sama dengan Koperasi Teluk Ketapang dalam mengembangkan dan mengemas paket wisata berbasis komunitas. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat peran masyarakat lokal sebagai pelaku utama dalam pengembangan destinasi wisata.

Aspek lain yang turut menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah pengenalan konsep Islamic Tourism atau pariwisata ramah Muslim. Implementasinya dilakukan melalui pengenalan masjid dan sejarah Negeri Terengganu, penguatan perilaku ramah dan etika berkomunikasi, serta promosi dan pengangkatan potensi UMKM lokal. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan pariwisata tidak hanya berorientasi pada daya tarik destinasi, tetapi juga memperhatikan nilai budaya, keramahan, dan karakter masyarakat setempat.

Kegiatan International Community Service ini juga mendapat sambutan hangat dari Wakil Gubernur Terengganu dalam jamuan yang berlangsung di Cruise Taman Tamadun Islam, Kuala Terengganu. Dalam kesempatan tersebut, delegasi IP Trisakti bersama delegasi dari Sumatera Barat dan Aceh menyerahkan cinderamata sebagai simbol persahabatan, penghormatan, dan penguatan hubungan antardaerah serta antarnegara.

Partisipasi IP Trisakti dalam kegiatan ini menjadi wujud komitmen perguruan tinggi dalam memperluas jejaring internasional, meningkatkan kompetensi mahasiswa, serta mengimplementasikan keilmuan pariwisata secara langsung di tengah masyarakat. Lebih dari sekadar pertukaran pengetahuan, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal terbangunnya kolaborasi jangka panjang antara akademisi dan komunitas lokal dalam menciptakan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing global.

Visited 5 times, 1 visit(s) today
Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Pinterest

Leave a Reply