IP Trisakti Perkuat Kelembagaan dan Kapasitas Masyarakat untuk Mendorong Desa Wisata Tanjungjaya Menuju Kemandirian

Karawang, 24 Oktober 2026 — Institut Pariwisata Trisakti melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Desa Wisata Tanjungjaya, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang, pada Sabtu (24/10). Kegiatan ini mengangkat tema “Penguatan Kelembagaan dan Peningkatan Kapasitas Masyarakat Menuju Desa Wisata Tanjungjaya yang Mandiri dan Berdaya Saing”. Program tersebut dirancang sebagai langkah awal untuk memperkuat fondasi pengelolaan desa wisata, dari tahap rintisan menuju desa wisata yang mandiri.

Tim PkM Institut Pariwisata Trisakti dipimpin oleh Dr. Michael Khrisna Aditya, SST.Par., M.Par. selaku ketua, bersama Dr. Rianto, SST.Par., M.Si.Par. dan Dr. RMW Agie Pradhipta, SST.Par., M.Sc. sebagai anggota. Kegiatan ini turut dihadiri Dr. Elda Nurmalinda, SST.Par., M.Par. dari staf Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M), serta dua mahasiswa Program Studi S1 Kewirausahaan, Annisa dan Mela Nurdiyani.

Dari unsur masyarakat dan pemangku kepentingan lokal, kegiatan dihadiri Kepala Desa Tanjungjaya H. Warjoni, Ketua Forum Desa Wisata (FORDESTA) Kabupaten Karawang, pemilik Lawasan Caraka Resto & Tourism Kang Ade Wahyu, perangkat Desa Tanjungjaya, perwakilan PKK, serta Karang Taruna Desa Tanjungjaya. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi dan menyelaraskan komitmen antarpihak yang terlibat dalam pengembangan desa wisata.

Tim Institut Pariwisata Trisakti bersama unsur pemerintah desa dan masyarakat dalam kegiatan PkM di Desa Wisata Tanjungjaya.

Dalam sesi penyampaian materi dan diskusi, peserta membahas pentingnya kelembagaan yang jelas, pembagian peran, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta kolaborasi antara pemerintah desa, komunitas, pelaku usaha, dan jejaring desa wisata. Penguatan kelembagaan diharapkan menjadi dasar bagi masyarakat untuk mengelola potensi lokal secara lebih terarah, menyusun prioritas pengembangan, dan membangun layanan wisata yang memiliki nilai tambah.

Pendekatan pengembangan desa wisata tidak hanya menitikberatkan pada daya tarik alam, tetapi juga pada kesiapan masyarakat sebagai pelaku utama. Karena itu, proses penguatan kapasitas perlu berjalan seiring dengan pembentukan tata kelola, pengembangan produk dan pengalaman wisata, peningkatan kualitas pelayanan, serta promosi yang sesuai dengan karakter dan daya dukung lingkungan Desa Tanjungjaya.

Penyampaian materi dan dialog bersama masyarakat menjadi ruang untuk menyamakan pemahaman mengenai tahapan pengembangan desa wisata.

Salah satu penanda komitmen bersama dalam kegiatan awal ini adalah penandatanganan pakta integritas untuk mendorong berjalannya Desa Wisata Tanjungjaya. Pakta tersebut menjadi pernyataan komitmen para pihak untuk bekerja sama dan mendukung proses pengembangan desa wisata. Antusiasme serta harapan masyarakat menunjukkan adanya dorongan untuk menjadikan Tanjungjaya sebagai destinasi yang dikelola secara mandiri, berkelanjutan, dan mampu bersaing.

Ketua FORDESTA Kabupaten Karawang menyampaikan pandangan dalam forum diskusi mengenai pengembangan Desa Wisata Tanjungjaya.

Kegiatan pada 24 Oktober 2026 ini merupakan tahap awal dari rangkaian pendampingan yang direncanakan berlanjut hingga Desember 2026. Tahapan berikutnya akan disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan Desa Wisata Tanjungjaya, sehingga proses pendampingan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi diarahkan pada penguatan kapasitas dan langkah-langkah pengembangan yang dapat diterapkan oleh masyarakat.

Setelah sesi diskusi, tim bersama peserta melakukan kunjungan lapangan untuk mengamati bentang alam dan potensi yang dimiliki Desa Tanjungjaya. Potensi tersebut antara lain sungai, hutan mangrove, pohon kelapa, area persawahan, komoditas mangga, serta tambak udang dan ikan nila. Keberagaman sumber daya ini membuka peluang untuk mengembangkan pengalaman wisata berbasis alam, pertanian, perikanan, dan kehidupan masyarakat setempat, dengan tetap memperhatikan aspek konservasi dan keberlanjutan.

Kunjungan lapangan untuk mengidentifikasi potensi bentang alam dan sumber daya lokal yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata.

Sungai dan vegetasi di sekitarnya merupakan bagian dari lanskap lokal yang berpotensi mendukung pengembangan pengalaman wisata berbasis alam.

Tim mengamati area lingkungan desa sebagai bagian dari identifikasi awal potensi dan kebutuhan pengembangan destinasi.

Melalui kegiatan ini, Institut Pariwisata Trisakti menegaskan peran perguruan tinggi dalam mendampingi masyarakat dan memperkuat kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Pengembangan Desa Wisata Tanjungjaya diharapkan bertumpu pada kelembagaan yang kuat, keterlibatan aktif masyarakat, pemanfaatan potensi lokal secara bertanggung jawab, dan kerja sama yang berkelanjutan. Dengan fondasi tersebut, Desa Tanjungjaya diharapkan dapat bergerak secara bertahap dari desa wisata rintisan menuju desa wisata mandiri yang memiliki daya saing serta memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.

Visited 6 times, 6 visit(s) today
Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Pinterest

Leave a Reply