Magister Pariwisata IP Trisakti Tutup Field Research dan PKM di Lampung Selatan, Dorong Penguatan Desa Wisata Berkelanjutan

Lampung Selatan, 1 November 2026 – Program Magister Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti (IP Trisakti) menggelar penutupan kegiatan Field Research dan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Batch 36 di Aula Desa Way Kalam, Kabupaten Lampung Selatan, Minggu (1/11/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pariwisata berkelanjutan berbasis masyarakat di kawasan Gunung Rajabasa.

Kegiatan dihadiri Kepala Desa Way Kalam Abdul Rasyid, Kepala Desa Kecapi dan Kepala Desa Kelawi, perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pelaku UMKM, Karang Taruna, masyarakat setempat, serta mahasiswa dan dosen pendamping Magister Pariwisata IP Trisakti.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Way Kalam, Abdul Rasyid, menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa yang telah melaksanakan penelitian di Desa Kecapi, Way Kalam, dan Kelawi. Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai kunjungan akademik, tetapi dapat berlanjut melalui pendampingan dan kolaborasi berkesinambungan untuk mendukung pengembangan desa wisata serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sesi kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan hasil penelitian dari enam kelompok mahasiswa yang mengkaji berbagai aspek pengembangan pariwisata di kawasan Gunung Rajabasa.

Kajian mencakup pengelolaan ekowisata dan konservasi, gastronomi dan agrowisata, pemberdayaan UMKM dan ekonomi kreatif, pemasaran digital dan branding destinasi, tata kelola kelembagaan dan sumber daya manusia pariwisata, serta infrastruktur, keselamatan, dan smart tourism.

Salah satu rekomendasi menyoroti optimalisasi komoditas perkebunan lokal Desa Way Kalam melalui pendekatan gastronomi berkelanjutan dan agrowisata. Mahasiswa juga menyusun rencana aksi penguatan usaha masyarakat, antara lain melalui peningkatan kualitas kemasan produk, perluasan pemasaran oleh-oleh, penguatan rantai pasok hasil kebun, serta pelibatan generasi muda dalam pengembangan UMKM.

Hasil kajian tersebut diharapkan menjadi masukan strategis bagi pemerintah desa dan pemangku kepentingan untuk mengembangkan potensi lokal menjadi produk wisata yang memiliki nilai tambah dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Pada sesi penutupan, Wakil Rektor III Bidang Pemasaran dan Kerja Sama Institut Pariwisata Trisakti sekaligus dosen pendamping, Novita Widyastuti, menyampaikan bahwa IP Trisakti telah melakukan pembinaan terhadap sejumlah desa wisata di Jawa Barat melalui kegiatan penelitian lapangan dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Berdasarkan pengalaman tersebut, Novita menegaskan bahwa pengembangan desa wisata memerlukan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dukungan kebijakan dan infrastruktur pemerintah, hingga kemitraan strategis dengan industri pariwisata. Pengembangan juga perlu bertumpu pada potensi khas desa, termasuk alam, budaya, kuliner tradisional, dan produk UMKM.

Ia menyoroti pentingnya mengangkat kembali kekayaan budaya dan makanan tradisional Lampung Selatan agar lebih dikenal dan memiliki daya tarik bagi wisatawan. Potensi tersebut, menurutnya, dapat dikembangkan melalui kegiatan berbasis budaya, storytelling, pemasaran, serta diversifikasi produk UMKM.

Novita juga mendorong penguatan peran kelembagaan lokal, seperti Pokdarwis dan BUMDes, dalam menggerakkan perekonomian desa. Melalui pengelolaan yang terarah, BUMDes dapat mendukung pengembangan UMKM, peningkatan kualitas destinasi, serta pengelolaan fasilitas wisata, termasuk homestay.

“Pengembangan desa wisata perlu menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama, bukan hanya sebagai penonton. Potensi lokal harus mampu menggerakkan perekonomian dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” demikian pesan Novita dalam sambutan penutupnya.

Ia menambahkan, desa wisata perlu mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama, setidaknya dua hari satu malam. Dengan meningkatnya lama tinggal wisatawan, peluang belanja produk lokal, penggunaan jasa homestay, serta keterlibatan UMKM dalam rantai ekonomi pariwisata juga semakin terbuka.

Novita turut menyampaikan harapan agar pengembangan yang terarah dan pendampingan berkelanjutan dapat meningkatkan kualitas desa wisata, termasuk daya saingnya dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).

Sebagai tindak lanjut, hasil rekomendasi Field Research direncanakan akan disusun menjadi buku yang dapat disampaikan kepada pemerintah daerah dan desa. Dokumen tersebut diharapkan menjadi referensi bagi pemangku kepentingan dalam menyusun rencana kerja pengembangan desa, baik dalam jangka pendek maupun menengah.

Kegiatan Field Research dan PKM Batch 36 berlangsung selama tiga hari, 30 Oktober hingga 1 November 2026, dengan mengangkat tema “Harmoni Gunung Rajabasa: Strategi Penguatan Ekosistem Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Masyarakat di Kawasan Ridge-to-Reef Gunung Rajabasa.”

Peserta merupakan mahasiswa Magister Pariwisata yang sebagian besar telah berkiprah di industri pariwisata dan hospitality, antara lain sebagai general manager, pengusaha, guru, dan dosen. Pengalaman profesional tersebut menjadi modal penting dalam menghasilkan kajian yang mengintegrasikan perspektif akademik dengan praktik industri.

Melalui kegiatan ini, IP Trisakti menegaskan komitmennya dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui penelitian terapan dan pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, pelaku usaha, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat pengembangan pariwisata di Desa Kecapi, Way Kalam, dan Kelawi sebagai kawasan wisata yang berdaya saing, berkelanjutan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal.

EMN.

Visited 2 times, 4 visit(s) today
Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Pinterest

Leave a Reply