Jakarta, 6 Oktober 2026 – Institut Pariwisata Trisakti (IPT) memperkuat kontribusinya dalam peningkatan kapasitas sumber daya manusia sektor pariwisata dan hospitality di Timor-Leste melalui International Community Service Program 2026 bertajuk “Capacity Building for the Tourism and Hospitality Sector in Timor-Leste”.
Kegiatan berlangsung pada 5-6 Oktober 2026 dan menjadi bagian dari rangkaian The 2nd International Conference on Community Service (ICCS) 2026 yang telah dilaksanakan pada 28 September 2026 bertepatan dengan “World Tourism Day”. Program ini diselenggarakan melalui kolaborasi antara Institut Pariwisata Trisakti, Jakarta, Indonesia, dan Ministerio do Turismo e Ambiente, Timor-Leste.
Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan secara hybrid. Sebanyak 50 peserta hadir secara langsung di Timor-Leste pada setiap hari pelaksanaan. Peserta tatap muka disesuaikan dengan fokus program pada masing-masing hari. Sementara itu, kegiatan secara daring diikuti oleh lebih dari 180 peserta per hari dari Indonesia maupun Timor-Leste.
Program selama dua hari tersebut mengangkat dua fokus utama yang berbeda. Day 1, pada 5 Oktober 2026, mengusung tema “Enhancing Tourism Capacity through Sustainable Development, Product Innovation, and Digital Marketing Strategies.” Sementara itu, Day 2, pada 6 Oktober 2026, mengangkat tema “Strengthening Hospitality Capacity through Service Excellence, Effective Communication, and Guest Experience Management.”
Perbedaan fokus tersebut memungkinkan kegiatan memberikan penguatan kapasitas secara lebih spesifik. Hari pertama diarahkan kepada pelaku sektor pariwisata, UMKM, komunitas, serta pemangku kepentingan pengembangan destinasi. Hari kedua memberikan perhatian khusus pada sumber daya manusia sektor hospitality, terutama karyawan hotel dan tenaga yang berkaitan langsung dengan pelayanan serta pengalaman tamu.
Kolaborasi Indonesia dan Timor-Leste untuk Penguatan Kapasitas Pariwisata
International Community Service Program 2026 menjadi ruang pembelajaran lintas negara yang mempertemukan akademisi, praktisi, pemerintah, masyarakat, pelaku pariwisata, UMKM, tenaga hospitality, mahasiswa, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Kegiatan turut menghadirkan Fetty Asmaniati, SE., MM., Rector of Trisakti Institute of Tourism, dalam Welcoming Remarks. Dari Timor-Leste, sambutan disampaikan oleh Antonio da Silva, Dip.Tourism., B.Bus., M.Sc., General Director for Ministerio do Turismo e Ambiente (DGT-MTA), Timor-Leste.
Kolaborasi tersebut memperkuat hubungan Indonesia dan Timor-Leste melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman profesional, dan praktik baik di bidang pariwisata serta hospitality. Pendekatan ini penting karena pengembangan sektor pariwisata tidak hanya memerlukan infrastruktur dan produk, tetapi juga membutuhkan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi terhadap perkembangan industri.
Rangkaian kegiatan juga menghadirkan Sugito, S.Sos., M.H., Senior Advisor to the Minister for Inter-Agency Relations, Ministry of Villages and Development of Disadvantaged Regions, sebagai Keynote Speaker. Kehadiran unsur pemerintah, akademisi, dan praktisi memberikan dimensi yang lebih luas dalam pembahasan. Peserta tidak hanya menerima materi konseptual, tetapi memperoleh gambaran penerapan berbagai strategi pengembangan pariwisata dalam konteks nyata.

Hari pertama, Senin, 5 Oktober 2026, berfokus pada penguatan kapasitas sektor pariwisata melalui pembangunan berkelanjutan, inovasi produk, pemasaran digital, serta pembelajaran dari praktik pengembangan industri dan desa wisata.
Sebanyak 50 peserta hadir secara langsung di Timor-Leste. Peserta terdiri atas pelaku usaha pariwisata dan UMKM, pengelola destinasi, pihak yang terlibat dalam pengembangan desa wisata, masyarakat, serta pemangku kepentingan terkait.
Secara daring, kegiatan diikuti oleh lebih dari 200 peserta yang berasal dari berbagai unsur, termasuk akademisi, mahasiswa, pelaku industri pariwisata, pemerintah, pengelola destinasi, komunitas, serta masyarakat yang memiliki perhatian terhadap perkembangan sektor pariwisata.
Sesi pertama menghadirkan Dr. Arief Faizal Rachman, M.T. dan Dr. Sri Mariati. Pembahasan diarahkan pada pengembangan pariwisata dan penerapan prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan destinasi. Peserta memperoleh perspektif mengenai pentingnya keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kepentingan masyarakat lokal, keberlanjutan sosial, serta perlindungan terhadap sumber daya yang menjadi bagian dari aktivitas pariwisata.
Pendekatan tersebut penting bagi Timor-Leste yang memiliki beragam potensi wisata alam, budaya, dan komunitas. Pengembangan destinasi memerlukan strategi yang tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat lokal dan menjaga keberlanjutan sumber daya dalam jangka panjang.
Sesi kedua menghadirkan Dr. Novita Widyastuti, SST., M.Si.Par. dan Dr. H. Muhammad Rahmad, S.Ag., S.Par., M.M., MITM.
Materi membahas bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi produk pariwisata yang memiliki nilai, karakter, dan daya tarik bagi wisatawan.
Pengembangan produk menjadi bagian penting dalam memperkuat destinasi. Potensi alam, budaya, kuliner, aktivitas masyarakat, hingga pengalaman lokal dapat dikembangkan secara lebih terstruktur sehingga memberikan pilihan pengalaman yang lebih beragam kepada wisatawan.
Bagi peserta, pembahasan ini memberikan pemahaman bahwa produk pariwisata tidak berhenti pada keberadaan atraksi. Produk perlu dirancang, dikemas, dikomunikasikan, dan dikelola agar memiliki relevansi dengan kebutuhan pasar sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Sesi ketiga menghadirkan Agus Riyadi, S.ST.Par., M.Sc., Ph.D. dan Ariawan Aryapranata, S.Kom., M.T.I.
Pembahasan difokuskan pada Digital Marketing for Tourism Businesses. Peserta memperoleh wawasan mengenai penggunaan teknologi digital untuk memperkenalkan produk, berkomunikasi dengan pasar, membangun kehadiran digital, serta memperluas jangkauan pemasaran.
Pemanfaatan media digital semakin penting bagi usaha pariwisata dan UMKM. Konsumen saat ini banyak memperoleh informasi, membandingkan produk, mencari rekomendasi, dan mengambil keputusan perjalanan melalui berbagai platform digital.
Karena itu, kemampuan membuat konten, menyampaikan nilai produk secara jelas, mengenali karakter pasar, serta menggunakan kanal digital yang relevan menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan oleh pelaku pariwisata.
Sesi keempat menghadirkan Cahyo Alkantana, Ph.D., Founder Bravo 360 Adventure, dan Sofyan, Direktur BUMDES Mekar Jaya Jagara.
Sesi ini memberikan perspektif praktis mengenai pengembangan industri pariwisata dan desa wisata berdasarkan pengalaman langsung para praktisi. Cahyo Alkantana, Ph.D., melalui pengalamannya sebagai Founder Bravo 360 Adventure, berbagi praktik pengembangan industri pariwisata, khususnya yang berkaitan dengan aktivitas wisata berbasis pengalaman dan pengelolaan kegiatan pariwisata.
Sementara itu, Sofyan, Direktur BUMDES Mekar Jaya Jagara, membagikan pengalaman dalam pengembangan desa wisata melalui pengelolaan potensi lokal dan keterlibatan masyarakat. Praktik tersebut memberikan contoh nyata bagaimana sumber daya desa dapat dikembangkan menjadi aktivitas pariwisata yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memperkuat peran masyarakat setempat.
Pembelajaran melalui praktik baik memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat bagaimana konsep pengembangan pariwisata diterapkan dalam kondisi nyata. Setiap destinasi memiliki karakter sosial, ekonomi, budaya, pasar, serta sumber daya yang berbeda. Karena itu, pengalaman yang dibagikan para praktisi dapat menjadi referensi untuk dikaji dan disesuaikan dengan kondisi serta potensi pariwisata di Timor-Leste.
Kombinasi empat sesi pada hari pertama memperlihatkan keterkaitan antara keberlanjutan, pengembangan produk, pemasaran digital, dan implementasi praktis. Seluruh aspek tersebut saling mendukung dalam membangun destinasi yang lebih adaptif, memiliki nilai ekonomi, dan tetap memperhatikan keberlanjutan.

Memasuki Hari kedua Selasa, 6 Oktober 2026, fokus kegiatan beralih pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia sektor hospitality melalui tema “Strengthening Hospitality Capacity through Service Excellence, Effective Communication, and Guest Experience Management.”
Rangkaian hari kedua diawali dengan welcoming remarks oleh Agus Riyadi, S.ST.Par., M.Sc., Ph.D., Wakil Rektor I Institut Pariwisata Trisakti. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya penguatan kompetensi sumber daya manusia hospitality sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan, profesionalisme, serta daya saing sektor pariwisata. Pembukaan ini sekaligus mempertegas komitmen Institut Pariwisata Trisakti dalam mendorong pertukaran pengetahuan dan pengembangan kapasitas tenaga hospitality melalui kolaborasi dengan Timor-Leste.
Sebanyak 50 peserta mengikuti kegiatan secara langsung di Timor-Leste, terutama dari sektor hospitality, termasuk karyawan hotel dan tenaga yang berkaitan dengan pelayanan tamu. Sementara itu, lebih dari 200 peserta mengikuti kegiatan secara daring. Peserta daring berasal dari berbagai latar belakang, termasuk tenaga hospitality, pelaku pariwisata, dosen, mahasiswa, praktisi, dan pemangku kepentingan lainnya.

Sesi pertama menghadirkan Eduard Rudolf Pangkerego, M.Par. dan Nawawi Halik, M.Par., CHA, CHIA., membahas terkait Hospitality Excellence menempatkan kualitas pelayanan sebagai bagian penting dalam operasional industri hospitality.
Pelayanan berkualitas memerlukan kompetensi teknis, sikap profesional, konsistensi, kemampuan memahami kebutuhan tamu, serta koordinasi antarkaryawan. Kualitas layanan juga berkaitan dengan bagaimana setiap titik interaksi dengan tamu dikelola secara baik.
Melalui sesi ini, peserta memperoleh penguatan mengenai standar pelayanan dan profesionalisme yang diperlukan dalam membangun kualitas sektor hospitality.
Sesi kedua menghadirkan Dr. Joko Haryono, S.Pd., M.Par. dan Freddy Triono, M.Par., Materi pembahasan seputar Communication Skills and Guest Relations sebagai kompetensi penting bagi tenaga hospitality.
Interaksi antara karyawan dan tamu terjadi hampir di seluruh proses pelayanan. Cara menyampaikan informasi, memahami kebutuhan, menangani permintaan, merespons keluhan, serta menjaga sikap profesional akan memengaruhi persepsi tamu terhadap kualitas pelayanan.
Kemampuan komunikasi karena itu tidak hanya berkaitan dengan keterampilan berbicara. Tenaga hospitality juga memerlukan kemampuan mendengarkan, memahami situasi, membaca kebutuhan tamu, serta memberikan respons yang sesuai dengan standar pelayanan.
Penguatan kompetensi tersebut menjadi penting bagi tenaga hospitality di Timor-Leste dalam mendukung peningkatan kualitas layanan dan membangun hubungan yang lebih baik dengan wisatawan maupun tamu hotel.
Sesi ketiga menghadirkan Garna Sobhara Swara, BA (Hons), M.Par. dan Eko Pradipto Permadi, M.Par., Pembahasan mengenai Improving Guest Experience melengkapi dua sesi sebelumnya. Pengalaman tamu terbentuk dari rangkaian interaksi selama menggunakan produk dan layanan hospitality. Kebersihan, kenyamanan, keramahan, kecepatan pelayanan, kualitas komunikasi, kemampuan menangani kebutuhan tamu, hingga perhatian terhadap detail dapat memengaruhi keseluruhan pengalaman.
Karena itu, tenaga hospitality perlu memahami pelayanan dari perspektif tamu. Pengalaman yang positif dapat meningkatkan kepuasan, memperkuat citra usaha, dan mendorong keinginan tamu untuk kembali atau memberikan rekomendasi kepada orang lain.

Ketiga sesi pada hari kedua membentuk rangkaian pembelajaran yang saling berhubungan. Hospitality excellence menjadi dasar peningkatan kualitas pelayanan, effective communication and guest relations memperkuat interaksi dengan tamu, sedangkan guest experience management menghubungkan seluruh proses pelayanan menjadi pengalaman yang lebih utuh. Pelaksanaan secara hybrid memperluas jangkauan International Community Service Program 2026, dengan 50 peserta hadir langsung di Timor-Leste pada setiap hari kegiatan dan lebih dari 200 peserta per hari mengikuti secara daring. Komposisi tersebut mempertemukan pelaku UMKM, tenaga hospitality, akademisi, mahasiswa, pemerintah, pengelola destinasi, serta praktisi dalam satu ruang pembelajaran lintas negara. Program ini sekaligus mendukung SDG 4: Quality Education, SDG 8: Decent Work and Economic Growth, SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure, SDG 11: Sustainable Cities and Communities, serta SDG 17: Partnerships for the Goals melalui peningkatan kapasitas, inovasi, penguatan komunitas, dan kemitraan internasional.

Dalam closing remarks, Dr. Novita Widyastuti, SST., M.Si.Par., menegaskan pentingnya keberlanjutan kolaborasi antara Institut Pariwisata Trisakti dan Timor-Leste agar pertukaran pengetahuan, pengalaman, serta praktik baik yang telah dibangun selama kegiatan dapat berkembang menjadi kerja sama yang lebih luas di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan sumber daya manusia, pariwisata, dan hospitality. Melalui program ini, Institut Pariwisata Trisakti bersama mitra di Timor-Leste memperkuat ruang belajar bersama yang menghubungkan pengetahuan akademik, pengalaman industri, dan kebutuhan masyarakat sebagai fondasi bagi peningkatan kualitas serta daya saing sektor pariwisata dan hospitality di Timor-Leste.













