Institut Pariwisata Trisakti dan MUI Perkuat Sinergi Pengembangan Kampung Buya Hamka sebagai Destinasi Wisata Ramah Muslim

Jakarta, 5 Agustus 2026-Institut Pariwisata Trisakti (IP Trisakti) kembali menggelar diskusi lanjutan bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait rencana pengembangan Kampung Buya Hamka di kawasan Danau Maninjau, Sumatera Barat, sebagai destinasi wisata ramah muslim. Pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Utama Institut Pariwisata Trisakti ini merupakan tindak lanjut dari audiensi sebelumnya sebagai bentuk komitmen kedua belah pihak dalam mengembangkan destinasi yang mengedepankan nilai-nilai keislaman, pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. Diskusi dipimpin oleh Rektor Institut Pariwisata Trisakti, Ibu Fetty Asmaniati, S.E., M.M., didampingi Wakil Rektor I Bapak Agus Riyadi, S.ST.Par., M.Sc., Ph.D., CHA, Wakil Rektor II Ibu Dr. Nurbaeti, M.M., Wakil Rektor III Ibu Dr. Novita Widyastuti, M.Si.Par., CIIQA., QCRO., Prof. Willy Arafah selaku Kepala Pusat Kajian Pariwisata, Kepala P3M, para kepala unit, serta jajaran ketua program studi. Dari pihak MUI hadir Dr. KH. Ahmad Zayadi beserta jajaran MUI dan mitra kerja Lembaga Wakaf (LW) MUI.

Dalam sambutannya, Rektor Institut Pariwisata Trisakti menyampaikan bahwa restorasi Kampung Buya Hamka merupakan upaya menjaga dan menghidupkan kembali warisan pemikiran, sejarah, serta keteladanan Buya Hamka melalui pengembangan destinasi wisata edukasi, religi, dan literasi. Pada kesempatan tersebut, tim MUI memaparkan konsep wakaf produktif sebagai strategi pendanaan berkelanjutan yang didukung skema crowdfunding untuk membuka partisipasi masyarakat, diaspora Minangkabau, filantropi, dan berbagai pemangku kepentingan. Sebagai bentuk kontribusi akademik, Institut Pariwisata Trisakti juga mempresentasikan blueprint pengembangan Kampung Buya Hamka yang mencakup penataan kawasan, pengembangan atraksi wisata berbasis sejarah dan budaya, penguatan identitas sebagai destinasi wisata ramah muslim, strategi pengelolaan kawasan, serta pemberdayaan masyarakat.

Diskusi berlangsung secara konstruktif dengan membahas berbagai aspek strategis dalam pengembangan kawasan. Fokus pembahasan meliputi restorasi homestay milik masyarakat melalui peningkatan kualitas bangunan, standarisasi pelayanan, dan pendampingan pengelolaan, serta pemberdayaan UMKM melalui pengembangan kuliner khas, kerajinan, suvenir, dan produk ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Selain itu, kedua belah pihak juga menekankan pentingnya pelaksanaan program reboisasi di kawasan sekitar Danau Maninjau serta penguatan konservasi Danau Maninjau sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan destinasi wisata yang berkelanjutan.

Melalui diskusi ini, berbagai masukan dari tim MUI menjadi bahan penyempurnaan blueprint pengembangan Kampung Buya Hamka, khususnya dalam memperkuat nilai-nilai keislaman, pelestarian budaya, serta keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan. Institut Pariwisata Trisakti dan Majelis Ulama Indonesia sepakat untuk terus memperkuat koordinasi dan kolaborasi dalam mewujudkan Kampung Buya Hamka sebagai destinasi wisata ramah muslim yang menjadi pusat edukasi, pelestarian budaya, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat, sekaligus menjadi contoh pengembangan pariwisata berkelanjutan yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, lingkungan, dan spiritual bagi masyarakat.

Visited 1 times, 1 visit(s) today
Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Pinterest

Leave a Reply