Sinergi Akademisi, Pemerintah Daerah dan Industri dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) kembangkan Destinasi Wisata Pulau Tidung Kecil, Kepulauan Seribu (19/01/2025). Kegiatan di awali dengan sambutan sekaligus pembukaan secara resmi oleh Bupati Kabupaten Kepulauan Seribu Bapak Muh. Fadjar Churniawan, yang didampingi oleh Direktur Utama PT. Felis Istana Anabul,Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Kepualauan Seribu Bapak Tri Indrawan, dan Direktur Pusat Kajian Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti Prof. Dr. Willy Arafah, DBA. Dalam sambutan Bapak Muh.Fadjar Churniawan mengemukakan bahwa sejak tahun 2001, secara historis Pulau Tidung Kecil merupakan pulau idle yang tidak ada perkembangan.
Dipihak lain Gubernur DKI Jakara mencanangkan kota Jakarta menjadi Global City. Dalam upaya mewujudkan harapan bapak Gubernur, maka Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu berinisiatif membangun destinasi wisata tematik pulau Kucing. Penyelenggaraan FGD ini diharapkan dapat menyempurnakan naskah akademik yang sedang disusun oleh Tim Kajian Institut Pariwisata Trisakti. Pembangunan destinasi wisata tematik pulau Kucing kedepannya diharapkan dapat memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat, pemerintah daerah, dan industri pariwisata. Selanjutnya hasil akhir kajian akan disampaikan oleh Bupati Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu kepada Gubernur DKI Jakarta.
Narasumber yang hadir dalam kegiatan FGD ini adalah Bapak Alhilal Furqan, BSc., MSc.,Ph.D (dari Institut Teknologi Bandung), Bapak Dr. Asep Mulyana, S.E., M.C.E. (dari Universitas Padjajaran), dan Bapak Prof. Dr. Muhammad Baequni, M.A. (dari Universitas Gadjah Mada. Kegiatan FGD dihadiri oleh pimpinan dari unsur pemerintah provinsi dan pemerintah daerah, yaitu: Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi DKI Jakarta (Kepala Bidang Perencanaan Strategis & Pendanaan Pembangunan dan Kepala UPT Pusat Riset dan Inovasi Daerah), Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta, Asisten Administrasi Perekonomian dan Pembangunan Sekkab Kepulauan Seribu, Kepala Suku Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Adm. Kepulauan Seribu, Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Kabupaten Adm. Kepulauan Seribu, dan Kepala Bagian Perekonomian dan Pembangunan Setkab Kepulauan Seribu. Tim ahli dari Institut Pariwisata Trisakti adalah Dr. Arief F. Rachman, S.S.T.Par., M.T., Oktovianus, S.Hut., M.Sc., Adam Rachmatullah, M.Sc., Hanni Adriani, S.P., M.Si., Dr. Devita Gantina, S.S.T. Par., M.Par., dan general secretary Pusat kajian Pariwisata Dr. Purwanti Dyah Pramanik, M.Si. Kegiatan FGD juga melibatkan mahasiswa S1 Pariwisata, yaitu: Achmad Naufal Pinaring Gusti dan Ririn Oktarina.
Bertindak sebagai moderator dalam kegiatan FGD ini adalah Bapak Dr. Moch Sabur, MM, CDMS, CMA (dari Universitas Trisakti). Paparan pertama disampaikan oleh ketua tim kajian pengembangan pulau Tidung Kecil, Dr. Arief F. Rachman, S.ST.Par., M.T. Beliau memaparkan secara ringkas hasil survey baik menggunakan data primer mapun sekunder, terkait potensi Pulau Tidung Kecil menjadi Destinasi Wisata Tematik Pulau Kucing. Lebih lanjut Bapak Arief memaparkan bahwa secara keseluruhan Pulau Tidung Kecil berpotensi menjadi Destinasi Wisata Tematik Pulau Kucing. Saat ini, rata-rata menginap tamu adalah 1,4 malam. Pembangunan destinasi wisata tematik diharapkan dapat meningkatkan lama tamu menginap. Dalam bidang sumber daya manusia, maka perlu adanya pelatihan profesional untuk mendukung keberlanjutan destinasi wisata ini. Pembangunan destinasi wisata Pulau Tidung dilaksanakan berbasis green island, blue economy, dan wisata berkelanjutan dalam kerangka Jakarta Global City, yang terintegrasi mulai dari zona penerimaan, zona penyangga, zona konservasi, dan zona inti. Diakhir paparan, Bapak Arief juga menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi serta benefit bagi masyarakat, jika Destinasi Wisata Tematik Pulau Kucing ini berhasil diwujudkan.
Selanjutnya paparan ditanggapi oleh para narasumber. Narasumber yang diberi kesempatan pertama adalah Bapak Dr. Asep Mulyana, S.E., M.C.E. menyampaikan tanggapan tentang wisata tematik pulau Kucing sebagai instrumen pertumbuhan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat pulau Tidung Kecil, Kepulauan Seribu, Jakarta. Beliau menyampaikan tanggapan dampak ekonomi pada pengembangan pariwisata Pulau Kucing. Bapak Asep menyampaikan bahwa Pulau Kucing idle tetapi bukan pulau kosong, melainkan pulau yang memiliki hal yang unik. Beliau juga menjabarkan bahwa Pulau Kucing berpotensi menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah jika dikelola secara berkelanjutan, dan menjanjikan kebermanfaatan baik dalam hal: (1) Ekonomi (peningkatan PDRB, peningkatan jumlah wisatawan), (2) Dampak Ketenagakerjaan (karena pariwisata bersifat padat karya, membuka peluang kerja bagi tenaga kerja langsung dan tidak langsung, menurunkan pengangguran wilayah), (3) Distribusi pendapatan, (4) Muncul multiplier effect, dan (5) Berdampak pada fiskal daerah
Narasumber kedua adalah Bapak Alhilal Furqan, BSc., MSc., Ph.D. Beliau merekomendasikan pembangunan Destinasi Wisata Tematik Pulau Tidung untuk menerapkan Model Platform Jafari. Model Platform Jafari, memiliki beberapa tahap, yaitu: (1) Advocacy platform: The good, (2) Cautionary platform: The Bad. Dalam konteks ini Bapak Hilai mengemukakan bahwa perlunya partisipasi masyarakat lokal. Jika masyarakat memiliki pendidikan rendah, maka perlu jadi pertimbangan. Jangan hanya berorientasi pada keuntungan finansial. Tidak terlibatnya partisipasi masyarakat berpotensi menimbukan penolakan dari masyarakat, karena masyarakat tergerus menjadi kompetitor, (3) Adaptancy platform, dan (4) Knowledge-based platform.
Narasumber ketiga adalah Bapak Prof. Dr. Muhammad Baequni, M.A. Beliau menyampaikan paparan tanggapan dengan topik Eco Island Tidung Kecil (Pulau Kucing). Bapak Prof. Baequni antara lain aktivitas di Destinasi Wisata Tematik Pulau Tidung direkomendasikan mengimajinasikan tentang lingkungan hidup dan ekosistem tentang kucing, sehingga menjadi nilai tambah dalam hal “experience”, sebagai High-end tourist dan bisa digabungkan dengan health tourism. Destinasi dilengkapi dengan fasilitas mewah, memberikan pengalaman kembali ke alam, menyamakan frekuensi dengan alam, mendapatkan pengalaman dari alam, dan perlu ada pendekatan dimensi humanitis dan spiritualitis (Eco Island Model). Diakhir paparan Bapak Prof. Baequni menekankan pentingnya partisipasi masyarakat sejak awal (CBT).
Hasil FGD menyimpulkan bahwa Kajian Pengembangan Pulau Tidung Kecil sebagai Destinasi Wisata Tematik Pulau Kucing di Kabupaten Kepulauan Seribu DKI Jakarta harus dapat memperlihatkan data secara kuantitatif terkait: (1) peningkatan benefit bagi pemerintah daerah dan masyarakat, (2) terciptanya green island dan blue economy sebagai persyaratan mencapai kota global, dan (3) menjawab tantangan SDGs 3 (Good Health & Wellbeing), 6 (Clean water & sanitation), 11 (sustainable cities & communities), 13 (climate action), dan 14 (life below water).


