Institut Pariwisata Trisakti melalui Fakultas Akademik dan Vokasi menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Review dan Pengembangan Kurikulum pada Senin–Selasa, 18–19 Mei 2026 bertempat di Golden Tulip Essential PIK 2. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen institusi dalam memperkuat kualitas pendidikan tinggi pariwisata yang adaptif terhadap perkembangan industri, transformasi digital, dan kebutuhan pasar kerja global.
FGD ini mengangkat tema “Review dan Pengembangan Kurikulum Berdasarkan Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025” dengan melibatkan pimpinan institusi, dekan, ketua program studi, dosen, praktisi industri, asosiasi profesi, akademisi, serta perwakilan kementerian dan dunia usaha. Kegiatan dipandu langsung oleh Dekan Fakultas Pariwisata, Surya Fadjar Boediman, yang memimpin jalannya diskusi secara aktif dan konstruktif selama proses review kurikulum berlangsung.

Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Agus Riyadi. Dalam paparannya disampaikan bahwa pengembangan kurikulum harus mengacu pada Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi serta Permendiktisaintek Nomor 52 Tahun 2025 mengenai profesi, karier, dan penghasilan dosen. Kurikulum diharapkan mampu menyesuaikan dengan kebutuhan industri melalui pendekatan modular, adaptif, dan berbasis kompetensi.
Beliau juga menekankan bahwa fokus pengembangan kurikulum saat ini tidak lagi semata pada jumlah mata kuliah, tetapi pada kompetensi lulusan yang relevan dengan dunia kerja. Selain itu, model pembelajaran diarahkan pada implementasi blended learning, project-based learning, case method, serta experiential learning untuk memperkuat kesiapan mahasiswa menghadapi tantangan industri pariwisata dan hospitality.

Selanjutnya, Wakil Rektor III Bidang Kemitraan dan Kewirausahaan, Novita Widyastuti Sugeng memaparkan hasil tracer study sebagai dasar evaluasi dan pengembangan kurikulum. Data menunjukkan bahwa tingkat respons tracer study mencapai 84,8% dari total lulusan, dengan tingkat serapan kerja mencapai 83,5%. Mayoritas lulusan telah bekerja penuh waktu di berbagai sektor industri pariwisata, perhotelan, dan perjalanan wisata.
Paparan tersebut menegaskan bahwa pendidikan vokasi masih menjadi kekuatan utama Institut Pariwisata Trisakti, khususnya melalui Program Studi Pengelolaan Perhotelan dan Usaha Perjalanan Wisata. Selain itu, tracer study menunjukkan pentingnya penguatan kompetensi digital, kewirausahaan, customer experience, komunikasi lintas budaya, hingga kemampuan adaptasi terhadap perubahan industri.

Dalam sesi diskusi, berbagai narasumber dari industri dan asosiasi profesi memberikan masukan strategis terkait penyempurnaan kurikulum. Beberapa isu utama yang menjadi perhatian antara lain penguatan literasi digital dan artificial intelligence (AI), pengembangan mata kuliah digital ecosystem, data-driven marketing, revenue management, policy tourism, sustainable tourism, hingga penguatan kompetensi entrepreneurship dan soft skills mahasiswa.
Perwakilan industri juga menyoroti pentingnya peningkatan kemampuan mahasiswa dalam komunikasi, public speaking, handling complaint, networking, serta etika budaya kerja agar lulusan tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga siap menjadi pengelola dan pengambil keputusan di industri.
Selain itu, pembahasan juga menekankan pentingnya penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia industri dalam mendukung implementasi kurikulum yang relevan dan berkelanjutan. Isu pengembangan desa wisata, green hotel, bisnis komunitas, digital tourism, hingga peluang tenaga kerja di sektor haji dan umrah turut menjadi bagian dari rekomendasi pengembangan kurikulum ke depan.
Kegiatan FGD ini menghasilkan berbagai rekomendasi strategis yang akan menjadi dasar penyempurnaan kurikulum seluruh program studi di lingkungan Institut Pariwisata Trisakti, mulai dari program vokasi, sarjana, magister, hingga doktoral. Melalui forum ini, Institut Pariwisata Trisakti menegaskan komitmennya untuk terus menghasilkan lulusan yang unggul, inovatif, berdaya saing global, serta mampu menjawab tantangan industri pariwisata masa depan.
