Pada tanggal 20-21 Februari 2025, Dosen dan Mahasiswa Institut Pariwisata Trisakti berpartisipasi aktif dalam kegiatan 1st International Symposium on Biodiversity Conservation & Ecotourism (BCE) di The Alana Yogyakarta Hotel & Convention Center Provinsi DIY, Indonesia. Adapun kegiatan ini diikuti oleh tim Dosen Institut Pariwisata Trisakti yang terdiri dari Dr. Arief Faizal Rachman, SST, MT, Adam Rachmatullah, S.Par, M. Sc, Dr. Reno Catelya Dira Oktavia, S.E., M.H; serta 2 Mahasiswa (KIP KA 2022) yang terdiri Septo Nugroho dan Ardhimas Wira Pratama. Partisipasi Dosen dan Mahasiswa Institut Pariwisata Trisakti dalam 1st International Symposium BCE 2025 mencerminkan komitmen dalam mempresentasikan hasil kajian serta berkontribusi pada diskusi ilmiah bertaraf internasional terkait konservasi biodiversitas dan ekowisata. Kegiatan ini menjadi bukti nyata upaya institusi dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kebijakan berkelanjutan di bidang konservasi dan ekowisata.
Pada kategori umum, Dr. Arief Faizal Rachman, SST, MT mewakili Institut Pariwisata Trisakti untuk mempresentasikan kajian ilmiah dengan judul “Anthropocene of Wallace’s Footprint: The Future Bidadari Halmahera (Semioptera Wallacii) Integrated Resort Area (BHIRA) Ecotourism Concept in North Maluku Province.” Sementara pada kategori Mahasiswa, Septo Nugroho (KIP A 2022) dan Ardhimas Wira Pratama (KIP A 2022) juga turut serta mempresentasikan paper mereka; dimana basic data kedua paper tersebut adalah berasal dari Skripsi mereka masing-masing. Septo Nugroho sendiri membawakan paparan dengan judul “The Socio-Economic and Socio-Cultural Impacts of Ecotourism In Baduy Luar, Banten, sementara Ardhimas Wira Pratama mempresentasikan artikelnya dengan judul “Physical and Psychological Carrying Capacity of Ecotourism Case Study: Wana Wisata Ranca Upas, Ciwidey, Kabupaten Bandung.
Kegiatan International Symposium on Biodiversity Conservation & Ecotourism International Symposium BCE diprakasai oleh Prof. Jatna Supriatna, M.Sc selaku Chair of Indonesia Science Fund, Member of Indonesia Sustainable Tourism Council, serta Profesor dalam bidang Conservation Biology di Universitas Indonesia. Simposium ini berkolaborasi dengan Indonesian Science Fund (DIPI), University of Aberdeen, Fakultas Biologi UGM, serta RCC UI Sustainable Solutions. Simposium ini menjadi ajang pertemuan bagi akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, serta pegiat lingkungan untuk berdiskusi mengenai berbagai isu konservasi biodiversitas dan ekowisata. Adapun kegiatan ini dihadiri para pakar atau akademisi keanekaragaman hayati, konservasi dan ekowisata seperti dari UI, IPB, UGM IP-Trisakti, James Cook University dan berbagai perguruan tinggi lainnya. Dari pemerintah pusat, Kementrian Pariwisata, Kementrian Kelautan dan Perikanan serta Kementrian Kehutanan. Selain para akademisi dan pemerintahan, juga turut hadir dalam forum internasional ini Lembaga Donor, NGO’s, sektor swasta, dan para pemangku kepentingan lainnya.
Melalui simposium ini, para peneliti tidak hanya memaparkan hasil penelitian, tetapi juga mendapatkan tinjauan sejawat langsung, memperluas jaringan akademik, serta membuka peluang publikasi prosiding dan makalah di jurnal internasional scopus Q1. Keikutsertaan dalam international symposium BCE 2025 ini tidak hanya memperkuat posisi institusi di kancah internasional, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam mendorong penelitian dan inovasi yang berdampak positif bagi masyarakat dan lingkungan. Selain itu, kegiatan ini bukan saja menjadi sangat penting bagi IP-Trisakti untuk berpartisipasi aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan di bidang konservasi keanekaragaman hayati dan ekowisata, melainkan juga sangat penting untuk membuka peluang kolaborasi dan kemitraan (networking and engagement) dalam membangun konservasi biodiversitas dan ekowisata di Indonesia.
Dengan terselenggaranya kegiatan International Symposium BCE 2025, diharapkan menjadi platform yang efektif dalam mendorong penelitian, kebijakan, serta inovasi baru dalam konservasi dan pengelolaan ekowisata, baik di Indonesia maupun di tingkat global. Simposium ini selaras dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), termasuk SDG 4 (Quality Education) dalam mendukung pendidikan dan penelitian berkualitas di bidang konservasi, SDG 13 (Climate Action) dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, SDG 14 (Life Below Water) yang menekankan perlindungan ekosistem laut dan perairan, serta SDG 15 (Life on Land) yang berfokus pada konservasi biodiversitas darat. Selain itu, simposium ini juga mendukung SDG 17 (Partnerships for the Goals) dengan memperkuat kerja sama antar pemangku kepentingan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dalam bidang konservasi biodiversitas dan ekowisata.
1 Comment
Mantab nich Pak Doktor Arief